Yogyakarta - Membangun sistem penjaminan mutu Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang kuat tidak bisa dilepaskan dari kualitas para pengajarnya. Menyadari hal ini, Kemendikdasmen menempatkan isu peningkatan kualitas dosen dan tenaga kependidikan PPG sebagai salah satu agenda utama dalam Simposium Penjaminan Mutu PPG Tahun 2025 yang digelar di Yogyakarta.
Dalam simposium yang dihadiri oleh perwakilan dari 164 LPTK ini, dibahas secara khusus strategi dan praktik baik dalam mengembangkan kompetensi dan profesionalisme para dosen PPG. Dosen tidak hanya dipandang sebagai penyampai materi, tetapi sebagai fasilitator, mentor, dan model peran yang kritis dalam membentuk calon guru. Oleh karena itu, kapasitas mereka harus terus-menerus dikembangkan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pedagogi, dan teknologi pendidikan.
Direktur Pendidikan Profesi Guru, Ferry Maulana Putra, menekankan bahwa penjaminan mutu harus membawa perbaikan nyata. Salah satu perbaikan paling fundamental adalah memastikan bahwa para pendidik di level PPG sendiri memiliki kualifikasi, kompetensi, dan dedikasi yang unggul. Tanpa dosen yang berkualitas, sulit mengharapkan proses pembelajaran PPG dapat menghasilkan lulusan guru yang profesional dan inspiratif.
Baca Juga: Kisah Para Guru: Dari Ekspektasi Domisili Hingga Kekecewaan Penempatan Jauh
Pembahasan mengenai pengembangan dosen ini juga terkait erat dengan topik lain seperti pengembangan kurikulum Outcome-Based Education (OBE) dan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Implementasi pendekatan-pendekatan modern tersebut menuntut perubahan paradigma dan peningkatan kemampuan instruksional dari para dosen. Forum simposium menjadi tempat untuk berbagi metode pelatihan, pendampingan, dan sumber daya yang efektif untuk mendukung transformasi peran dosen ini.
Selain kompetensi pedagogis, aspek penelitian dan publikasi ilmiah dosen PPG juga mendapat perhatian. Kemampuan melakukan penelitian yang relevan dengan masalah praktik pembelajaran di sekolah dianggap dapat memperkaya kualitas pembelajaran dalam PPG itu sendiri. Dosen yang aktif meneliti dan memublikasikan karyanya diharapkan dapat membawa wawasan yang lebih tajam dan berbasis bukti ke dalam kelas.
Peningkatan kualitas ini juga mencakup tenaga kependidikan yang mendukung administrasi dan operasional program PPG. Efisiensi dan profesionalisme tenaga kependidikan berkontribusi pada penciptaan lingkungan akademik yang kondusif dan terkelola dengan baik, yang pada akhirnya mendukung proses belajar mengajar yang optimal.
Rekomendasi yang diharapkan lahir dari simposium ini adalah kerangka pengembangan berkelanjutan (continuous professional development) bagi dosen dan tenaga kependidikan PPG. Kerangka ini perlu mempertimbangkan kebutuhan yang beragam antar LPTK serta menyediakan mekanisme dukungan yang memadai dari tingkat pusat.
Dengan fokus strategis pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di tingkat institusi penyelenggara, Kemendikdasmen berupaya memperkuat fondasi paling vital dari sistem PPG. Investasi pada dosen dan tenaga kependidikan yang unggul diyakini akan memberikan dampak pengungkit (leveraged effect) terbesar dalam meningkatkan mutu lulusan PPG secara keseluruhan.