Masyarakat Pesisir Dan Nelayan NTB Diminta Waspada Penuh Hadapi Angin Dan Gelombang Tinggi

Rabu, 14 Januari 2026

    Bagikan:
Penulis: Wahyu Ardianto
Sebagai kelompok yang hidup dan mencari nafkah di garis depan dampak cuaca ekstrem, masyarakat pesisir dan nelayan NTB mendapat perhatian khusus dari BMKG untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari risiko.

Mataram, Nusa Tenggara Barat - Dalam peringatan dini cuaca ekstremnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun NTB secara khusus menyasar dua kelompok masyarakat yang dianggap paling rentan dan terdampak langsung oleh fenomena angin kencang dan gelombang tinggi. Kelompok tersebut adalah masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir dan para nelayan yang mata pencahariannya bergantung pada kondisi laut. Kepala Stasiun BMKG NTB, Satria Topan Primadi, secara langsung memohon mereka untuk selalu waspada.

Masyarakat yang bermukim di desa-desa pesisir atau area yang berbatasan langsung dengan pantai menghadapi risiko ganda. Risiko pertama berasal dari gelombang tinggi yang dapat mencapai lebih dari dua meter. Ombak besar berpotensi menyebabkan banjir rob atau banjir pesisir, menggenangi permukiman, merusak infrastruktur pantai, dan yang paling berbahaya adalah menyapu atau menyeret orang yang berada di tepi pantai.

Risiko kedua adalah dampak tidak langsung dari angin kencang itu sendiri. Atap rumah yang tidak kuat, bangunan semi-permanen, serta jaring atau peralatan penangkapan ikan yang diletakkan di luar ruangan dapat rusak atau hancur diterpa angin. Oleh karena itu, selain waspada, masyarakat pesisir juga disarankan untuk mengamankan barang-barang di sekitar rumah dan memastikan tempat tinggalnya dalam kondisi cukup kuat.

Baca Juga: Status Siaga Tetap Diimbau BPBD Meski Banjir Di Jakarta Telah Surut

Sementara itu, bagi para nelayan, peringatan BMKG ini bersifat sangat kritis menyangkut keselamatan jiwa di laut. Aktivitas melaut, khususnya dengan menggunakan perahu kecil dan tradisional, harus dipertimbangkan ulang dengan sangat matang. Menghadapi gelombang setinggi dua meter di laut lepas merupakan tantangan yang sangat berbahaya bagi kapal-kapal berukuran tersebut, dengan risiko kapal oleng, kemasukan air, atau terbalik.

BMKG menekankan bahwa keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama di atas segala pertimbangan ekonomi sejenak. Hasil tangkapan ikan yang mungkin melimpah atau kebutuhan ekonomi keluarga tidak boleh mengabaikan fakta adanya peringatan resmi dari otoritas meteorologi. Menunda melaut hingga kondisi membaik adalah keputusan yang paling bijak dan bertanggung jawab.

Imbauan kewaspadaan juga berlaku bagi masyarakat yang sekadar beraktivitas atau berwisata di kawasan pesisir. Aktivitas seperti memancing di tebing pantai, berjalan-jalan di tepi laut, atau berenang harus dihindari selama peringatan ini berlaku. Arus balik dari gelombang besar dapat terjadi dengan kuat dan tiba-tiba, menyulitkan bahkan perenang yang mahir sekalipun.

Komunikasi informasi dari BMKG hingga ke tingkat masyarakat pesisir dan nelayan menjadi tantangan sekaligus kunci kesuksesan mitigasi. Peran pemerintah desa, kelompok masyarakat pesisir, dan ketua adat nelayan sangat vital dalam menyebarluaskan peringatan ini secara efektif dan memastikan dipatuhi oleh seluruh anggota komunitas.

Dengan meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi sederhana, diharapkan komunitas pesisir dan nelayan NTB dapat melalui periode cuaca ekstrem ini dengan selamat dan meminimalkan kerugian materiil. BMKG berkomitmen untuk terus memberikan informasi terbaru sebagai dasar pengambilan keputusan yang tepat oleh kelompok rentan ini.

(Wahyu Ardianto)

    Bagikan:
komentar