Banda Aceh, Aceh – Pasca terjadinya bencana alam yang melanda Aceh dan Sumatera Utara, PT Pertamina (Persero) tidak hanya fokus pada distribusi, tetapi juga pada aspek keamanan dan keselamatan fasilitas energinya. Tim inspeksi teknik dari Pertamina dikerahkan untuk memeriksa kondisi fisik seluruh aset strategis di wilayah rawan.
Pemeriksaan difokuskan pada infrastruktur kritis seperti jaringan pipa transmisi yang melintasi area terdampak. Pipa diperiksa secara visual dan dengan alat untuk mendeteksi adanya pergeseran tanah atau tekanan tidak normal yang berpotensi menyebabkan kebocoran. Demikian halnya dengan integritas tangki timbun di terminal BBM.
SPBU-SPBU yang terdampak banjir juga dievaluasi. Pemeriksaan terhadap tangki bawah tanah dan peralatan dispenser dilakukan secara ketat sebelum SPBU diizinkan beroperasi kembali. Hal ini untuk mencegah kontaminasi air ke dalam BBM yang dapat merusak kendaraan konsumen dan membahayakan keselamatan.
Jika ditemukan kerusakan, tim teknis akan segera melakukan perbaikan sementara sebelum nantinya dilakukan rehabilitasi total. Prioritasnya adalah mengamankan lingkungan sekitar dari potensi bahaya ledakan atau pencemaran lingkungan akibat tumpahan minyak. Prokes keselamatan menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Pertamina juga berkoordinasi dengan pemerintah lokal dan badan penanggulangan bencana untuk memetakan zona aman dan zona rawan bagi pendirian fasilitas energi darurat. Pemetaan ini penting untuk menghindari penempatan posko bantuan di lokasi yang berisiko mengalami bencana susulan.
Dengan langkah proaktif ini, Pertamina ingin memastikan bahwa proses pemulihan dapat berjalan dengan aman, tanpa diikuti oleh insiden keselamatan yang justru akan memperparah situasi. Komitmen terhadap operasi yang aman, andal, dan ramah lingkungan tetap menjadi prinsip utama dalam setiap kondisi.