Surabaya, Jawa Timur - Taman Remaja Surabaya (TRS) bukan sekadar taman hiburan biasa. Ia adalah institusi, bagian dari identitas dan memori kolektif warga kota selama hampir lima dekade. Sejak dibuka pada tahun 1971, tempat ini menjadi destinasi wajib untuk keluarga mencari hiburan akhir pekan . Setiap wahana yang ada menyimpan cerita dan tawa yang berbeda.
Dari kora-kora yang memacu adrenalin hingga biang lala yang menawarkan pemandangan kota, setiap wahana seakan memiliki nyawa dan penggemarnya sendiri. Suara musik dari sistem audio taman dan gemericik air mancur menjadi soundtrack yang tak terpisahkan dari kawasan tersebut. Banyak pasangan yang pertama kali berkencan di tempat ini.
Namun, segala sesuatu harus berakhir. Pada tahun 2018, setelah 47 tahun mengabdikan diri, Taman Remaja Surabaya resmi ditutup oleh pemerintah kota setempat. Penutupan ini dilakukan karena kerja sama dengan pengelola sudah berakhir . Keputusan ini menandai akhir dari sebuah era hiburan klasik di Surabaya.
Pasca penutupan, meski secara fisik sudah tidak beroperasi, 'kehidupan' Taman Remaja Surabaya seolah belum benar-benar berakhir. Warga sekitar kerap melaporkan hal-hal mistis, seperti suara keramaian dan alunan musik yang kadang masih terdengar di malam hari, seakan-akan taman itu hidup kembali untuk sesaat .
Cerita-cerita tersebut, terlepas dari benar tidaknya, menunjukkan betapa kuatnya kesan yang ditinggalkan TRS dalam ingatan masyarakat. Tempat ini tidak hanya eksis secara fisik, tetapi juga hidup dalam memori dan cerita turun-temurun, menjadi bagian dari folklore urban kota Surabaya.
Nasib Taman Remaja Surabaya mengajarkan bahwa nilai sebuah tempat wisata tidak hanya terletak pada wahana dan fasilitasnya, tetapi lebih pada pengalaman dan kenangan yang berhasil diciptakan bagi pengunjungnya. Sebuah tempat bisa ditutup, tetapi kenangan yang tercipta di dalamnya akan abadi.
Kini, lahan yang dahulu dipenuhi tawa anak-anak itu mungkin telah sepi. Namun, bagi mereka yang pernah menginjakkan kaki di sana, Taman Remaja Surabaya akan selalu hidup, tidak sebagai kumpulan besi dan lampu, tetapi sebagai potongan masa kecil yang cerah dan tak tergantikan.